Leads Indonesia

Articles

PENTINGNYA DIGITAL LEADERSHIP UNTUK MENGOPTIMALKAN BONUS DEMOGRAFI 2030 MENUJU INDONESIA EMAS 2045

thedigitalleadershipforum.com

           Bonus demografi 2030 dipandang sebagai momentum bagi Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Hal ini tidak terlepas dengan besarnya penduduk usia produktif yang diperkirakan akan mendominasi pasar tenaga kerja.

           Berdasarkan Laporan Peta Jalan Generasi Emas Indonesia 2045 yang diterbitkan Kemdikbud (2017), menyebutkan bahwa bonus demografi 2030 menciptakan peluang proporsi penduduk usia produktif 15-64 tahun 2030 mencapai 201,8 juta penduduk.

           Proporsi usia produktif ini tidak terlepas dengan pergeseran komposisi penduduk yang mana penduduk usia lansia dan 65 tahun ke atas mulai menurun. Di samping itu, rasio ketergantungan pada 2030 mulai menurun hingga 46,9%.

           Bonus demografi 2030 ini sejatinya menawarkan peluang untuk Indonesia Emas 2045 masuk ke dalam 5 negara yang memiliki kekuatan ekonomi besar. Sehingga dapat memaksimal potensi Sumber Daya Manusia (SDM) produktif di Indonesia untuk meningkatkan value dan pertumbuhan ekonomi negara.

asystems.as

           Walaupun demikian, adanya bonus demografi 2030 menjadi tantangan pula bagi Indonesia apabila tidak mampu memanfaatkannya. Menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kecakapan literasi digital menjadi fundamental menghadapi arus digitalisasi di segala bidang.

           Menurut data IMD World Competitiveness Center (2021) menyebutkan Indonesia berada di urutan ke-53 dari 64 negara terkait daya saing digitalnya rendah. Poin penting yang menjadi perhatian dari indikator knowledge dengan sub faktor konsentrasi ilmiah pada ranking 44 dan talenta dengan ranking 48.

           Hal ini tentunya menjadi sorotan bagi pemerintah selaku regulator dan fasilitator yang mengembangkan arah menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul mencapai bonus demografi 2030.

           Hal ini juga didukung dengan Indeks Literasi Digital yang diterbitkan Kominfo, di mana untuk indikator kecakapan digital memiliki skor 3,44 dan menjadi 2 terbawah bersama keamanan digital dengan skor 3,10 (Kominfo.go.id, 2022).

           Berdasarkan data tersebut, kesiapan SDM Indonesia dalam menyongsong bonus demografi 2030 perlu dibangun secara matang untuk menghasilkan talenta-talenta digital.

           Situasi bonus demografi 2030 mendatang sudah pasti akan didoninasi dengan tantangan di dunia digital dan teknologi. Maka dari itu, mengasah kemampuan generasi muda saat ini dapat dipersiapkan tidak hanya pada hard skill semata.

           Namun, penting membangun fundamental digital leadership untuk responsif terhadap pesatnya kebutuhan digital mendatang. Keberadaan digital leadership tentu dapat mencetak generasi muda dalam usia produktif yang memiliki kemapanan dalam melakukan inovasi dan memberikan kontribusi dalam menghadapi perkembangan era digital.

           Menurut Tanniru (2018) menyatakan bahwa digital leadership dipandang sebagai suatu proses yang secara esensial membangun dan menciptakan nilai budaya inovasi berkelanjutan. Hasilnya secara cepat dengan menggunakan agile IT dan arsitektur bisnis.

           Adanya digital leadership sesungguhnya bentuk kombinasi antara kepemimpinan transformasional dan penggunaan teknologi informasi. Pemimpin yang mengadopsi digital leadership memiliki karakteristik untuk mengaplikasikan technology leadership, digital visioning, dan digital execution (Mihardjo & Rukmana, 2018).

           Pentingnya digital leadership menjadi modal SDM unggul untuk memiliki keterampilan mengelola potensi SDM produktif dalam pemanfaatan digital.

           Kebutuhan digital leadership dengan mencapai bonus demografi 2030 di Indonesia merupakan keniscayaan yang dibutuhkan guna memperbesar peluang kebermanfaatan momentum ini.

           Lantas bagaimana strategi implementasi membentuk digital leadership bagi generasi muda usia produktif mendatang dalam mencapai bonus demografi 2030 di Indonesia? Bonus demografi 2030 dapat dicapai ketika kesiapan SDM usia produktif mampu secara adaptif menghadapi perubahan yang terdisrupsi digitalisasi.

           Mencetak generasi muda yang berkompetensi digital leadership sangat perlu dipersiapkan dengan strategi multi stakeholder partnership melalui kolaborasi berbagai stakeholder.

           Menurut Anna de Visser-Amundson (2020) menyebutkan bahwa multi stakeholder partnership merupakan suatu bentuk tata kelola kolaborasi melibatkan perspektif kemitraan lintas stakeholder baik dari pemerintah, swasta atau pelaku usaha, akademi, dan masyarakat sipil.

           Pada dasarnya strategi multi stakeholder partnership pentingnya melibatkan semua pihak yang berkepentingan untuk saling bekerja sama dan berkolaborasi menyelesaikan masalah.

           Poin penting yang perlu disoroti problem keterampilan digital leadership generasi muda saat ini memerlukan pembinaan untuk mencapai bonus demografi 2030 yang didominasi nuansa digital.

           Dari sisi pemerintah sebagai regulator dan fasilitator dalam menciptakan regulasi yang memberikan peluang generasi muda sebagai aset talenta digital. Dalam mengembangkan kepekaan menghadapi tantangan digital dengan menginkubasi karya digital generasi muda sekaligus memberikan pendanaan dan pembinaan.

           Pada perspektif swasta tentu menaruh nilai strategis untuk membantu memberikan ruang belajar praktik digital secara real project untuk mengasah skill digital leadership.

           Kemudian, sisi akademisi berperan untuk menerapkan fasilitasi pembinaan untuk mengisi hard skill dalam merencanakan SDM maju dalam bonus 2030. Hal ini pula tidak terlepas untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan pasar.

           Sedangkan, masyarakat sipil sebagai aktivator untuk menjalankan inisiasi program untuk mendukung kualitas kompetensi digital leadership talent yang mumpuni sebelum menghadapi disrupsi pekerjaan.

           Apabila skenario multi stakeholder partnership dapat diaplikasikan dengan kemitraan terkait dapat meningkatkan peluang mencetak SDM unggul mencapai bonus demografi 2030.

           Dengan demikian, skill digital leadership merupakan kunci pengembangan SDM generasi muda yang unggul untuk secara resisten mampu menjawab tantangan bonus demografi 2030. Sehingga kualitas SDM Indonesia mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebagaimana Indonesia diprediksi menjadi 5 kekuatan ekonomi terbesar di dunia dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Editor : Nunung Asmawati

Website : Doan Carlos Embara

Penulis : Ardian Rizki Serda Ginata (Peserta LEADS Article Competition 2022)

 

Sumber Referensi :

Anna de Visser-Amundson. (2020). A Multi-stakeholder Partnership to Fight Food Waste in the Hospitality Industry: A Contributionto the United Nations Sustainable Development Goals 12 and 17. Journal of Sustainable Tourism, 1-28. https://doi.org/10.1080/ 09669582 .2020.1849232.

IMD World Competitiveness Center. (2021). IMD World Digital Competitiveness Ranking 2021. Lausanne.

Kemdikbud. (2017). Peta Jalan Generasi Emas Indonesia 2045. Jakarta.

Kominfo.go.id. (2022). Budaya Digital Membaik, Indeks Literasi Digital Indonesia Meningkat. Retrieved March 7, 2022, from https://kominfo.go.id/content/39488/siaran-pers-no-15hmkominfo012022-tentang-budaya-digital-membaik-indeks-literasi-digital-indonesia-meningkat/0/siaran_pers

Mihardjo, L. W. W., & Rukmana, R. A. N. (2018). Does Digital Leadership Impact Directly or Indirectly on Dynamic Capability: Case on Indonesia Telecommunication Industry in Digital Transformation.

The Journal of Social Science Research, (2), 832–841. https://doi.org/10.32861/jssr.spi2.832.841 Tanniru, M. N. (2018). Digital Leadership. In Management of Information System (pp. 93– 109). https://doi.org/10.5772/intechopen.76045

Fully Funded