Leads Indonesia

Articles

TIGA LINGKUP PEMBUDAYAAN LITERASI UNTUK MEWUJUDKAN INDONESIA EMAS 2045

republika.co.id

Sudah tidak asing lagi di telinga kita, ketika mendengar kabar bahwa pada tahun 2020—2030, Indonesia akan mengalami bonus demografi, yakni ketika jumlah angka penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dari jumlah angka penduduk usia nonproduktif (Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan, 2017).

Saat ini, kita semakin dekat dengan puncak bonus demografi yang menurut Kepala Lembaga Demografi FEB Universitas Indonesia, Turro S. Wongkaren, akan terjadi pada awal tahun 2030-an.

Adanya bonus demografi yang dimiliki Indonesia ini menjadi suatu tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Apabila bangsa Indonesia tidak dapat mengoptimalkan bonus demografi ini dengan baik, hal ini hanya akan menimbulkan berbagai permasalahan baru bagi generasi Indonesia di masa mendatang.

Akan tetapi, pada dasarnya bonus demografi juga merupakan sebuah peluang besar bagi bangsa Indonesia untuk dapat menyejahterakan dan memakmurkan masyarakat, apabila masyarakat Indonesia memiliki kualitas sumber daya manusia yang dapat memberikan kontribusi yang baik bagi keberlangsungan dan pembangunan negara. (Achmad Nur Sutikno, 2020).

Penulisgarut.web.id

Untuk mendapatkan kebermanfaatan yang optimal dari bonus demografi ini, diperlukan upaya bersama seluruh lapisan masyarakat, pemerintah, serta pihak-pihak lainnya sebagai agent of development dalam memaksimalkan potensi sumber daya manusia yang ada.

Sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sangat diperlukan untuk meggapai Indonesia Emas pada tahun 2045. Pada umumnya, terdapat tiga aspek yang harus dipenuhi untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu literasi dasar, karakter, dan kompetensi.

Akan tetapi, permasalahan literasi masih menjadi persoalan yang perlu dibenahi di Indonesia. Berdasarkan survei Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2019 mengenai tingkat literasi berbagai negara, Indonesia mendapatkan skor 3,49 dengan skala skor indeks 0-5 dan menempati peringkat ke 62 dari 70 negara yang disurvei (Tingkat Literasi Indonesia Di Dunia Rendah, Ranking 62 Dari 70 Negara – Perpustakaan Amir Machmud, n.d.).

Berdasarkan data tersebut, kita bisa melihat bahwa kualitas sumber daya manusia negara Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara lainnya. Salah satunya yakni di bidang literasi.

Untuk itu, salah satu upaya untuk memaksimalkan kualitas masyarakat Indonesia, yakni dengan mengusung dan mengoptimalkan Peta Jalan Pembudayan Literasi Nasional.

Peta Jalan Pembudayaan Literasi merupakan sebuah rancangan yang dibentuk pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).

Peta Jalan Pembudayaan Literasi ini akan diupayakan untuk menjadi acuan bagi kementerian atau lembaga, komunitas, dan lembaga swadaya masyarakat dalam melaksanakan program-program pembudayaan literasi. Adapun di dalam Peta Jalan Pembudayaan Literasi ini berfokus pada Gerakan Literasi Nasional. 

Dalam hal ini, terdapat tiga lingkup pembudayaan literasi pada Gerakan Literasi Nasional, yakni pembudayaan literasi keluarga, pembudayaan literasi sekolah, dan pembudayaan literasi masyarakat.

Menurut Dr. Ir. Wayan Koster MM, Anggota Komisi X DPR RI, gerakan literasi nasional ini yang merupakan sebuah program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memang seharusnya tidak hanya dilaksanakan di sekolah, tetapi juga harus dilaksanakan pada tingkat keluarga dan juga masyarakat (KBS Dorong Gerakan Literasi Di Sekolah, Masyarakat Dan Keluarga | Gerakan Literasi Nasional, n.d.).

Pada pembudayaan literasi keluargam lingkungan keluarga merupakan hal pertama yang dijadikan pondasi dan perlu diperhatikan dalam membentuk karakter gemar membaca pada anak.

Menurut Kepala Badan Bahasa, Dadang Sunendar, berpendapat bahwa penerapan literasi keluarga dimulai dari sikap keteladanan.

Beliau mengatakan bahwa apabila orang tua menginginkan anaknya gemar membaca maka harus diawali dengan orang tua yang juga menunjukkan kegemaran membaca di depan anak-anaknya. Dengan demikian, anak akan mengikuti kebiasaan membaca yang ditunjukkan orang tuanya.

Selanjutnya, gerakan literasi di lingkup keluarga juga perlu didukung oleh gerakan literasi di sekolah. Di mana, hampir sebagian besar waktu peserta didik dihabiskan di sekolah. Perlu adanya dukungan dan motivasi dari guru di sekolah agar terciptanya minat baca di lingkungan tersebut.

Adapun pembudayaan literasi sekolah lebih ditujukan untuk mendukung pembelajaran dengan mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis peserta didik sejak pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi. 

Terakhir, pembudayaan literasi masyarakat lebih menekankan pada pengembangan kemampuan hidup bermasyarakat dan juga pengetahuan masyarakat secara keseluruhan (Peta Jalan Pembudayaan Literasi Segera Dirampungkan – Eduwara.Com, n.d.).

            Pada akhirnya, untuk mewujudkan generasi emas di tahun 2045, perlu adanya rencana bersama dari berbagai sektor untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada dalam masyarakat Indonesia.

Upaya peningkatan minat literasi masyarakat Indonesia perlu terus dijunjung agar hal ini dapat menjadi langkah awal dalam memupuk pola pikir kritis di masyarakat. Sehingga nantinya, masyarakat Indonesia dapat menjadi masyarakat yang memiliki daya saing di masa depan.

Editor : Nunung Asmawati

Website : Doan Carlos Embara

Penulis : Herfinka Riandwi Hapsari Budiono (Universitas Brawijaya, Peserta LEADS Article Competition)

 

Sumber Referensi :

Achmad Nur Sutikno. (2020). Bonus Demografi Di Indonesia. VISIONER : Jurnal Pemerintahan Daerah Di Indonesia, 12(2), 421–439. https://doi.org/10.54783/jv.v12i2.285

KBS Dorong Gerakan Literasi di Sekolah, Masyarakat dan Keluarga | Gerakan Literasi Nasional. (n.d.). Retrieved March 9, 2022, from https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/kbs-dorong-gerakan-literasi-di-sekolah-masyarakat-dan-keluarga/

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Peta Jalan Gerakan Literasi Nasional. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.

Nasution, R. D. (2017). Pengaruh Modernisasi dan Globalisasi terhadap Perubahan Sosial Budaya di Indonesia. Jurnal Penelitian Komunikasi Dan Opini Publik, 21(1), 30–42.

Peta Jalan Pembudayaan Literasi Segera Dirampungkan – eduwara.com. (n.d.). Retrieved March 10, 2022, from https://eduwara.com/peta-jalan-pembudayaan-literasi-segera-dirampungkan

Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. (2017). Membangun Generasi Berkualitas. Media Keuangan Transparasi Informasi Kebijakan Fiskal, XII(119), 5–54. www.kemenkeu.go.id

Tingkat Literasi Indonesia di Dunia Rendah, Ranking 62 Dari 70 Negara – Perpustakaan Amir Machmud. (n.d.). Retrieved March 9, 2022, from https://perpustakaan.kemendagri.go.id/tingkat-literasi-indonesia-di-dunia-rendah-ranking-62-dari-70-negara/

Fully Funded