Leads Indonesia

Articles

MENGGALI POTENSI DAN PERAN GENERASI MUDA UNTUK MENGOPTIMALKAN BONUS DEMOGRAFI 2030 MENUJU INDONESIA EMAS 2045

rumahpemilu.org

           Mengapa dikatakan Generasi Emas Indonesia? Karena merupakan generasi penerus bangsa yang pada periode tersebut adalah sangat produktif, sangat berharga, dan sangat bernilai. Sehingga perlu dikelola dan dimanfaatkan dengan baik agar berkualitas menjadi insan yang berkarakter, insan yang cerdas, dan insan yang kompetitif, serta menjadi bonus demografi (Triyono and Dharma 2018).

           Indonesia Emas berkaitan dengan bagaimana keadaan generasi Indonesia ketika berusia 100 tahun merdeka dan sebagai bangsa yang besar dengan modalitas yang sangat luar biasa.

           Sumberdaya tersebut baik berupa sumberdaya manusia, sumberdaya alam, sumberdaya kultural, maupun sumber daya lainnya.

           Sudah saatnya sumberdaya ini dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

insideindonesia.org

           Pada tahun 2045 mendatang indonesia tepat berusia 100 tahun. Di tahun itu pula terjadi jendela demografi yang dimana jumlah usia produktif lebih besar dibanding usia non produktif.

            Menurut survei, pada tahun 2045 usia angka produktif mencapai 70%, sedangkan usia yang tidak produktif hanya berkisar 30%. Bonus demografi merupakan suatu tantangan sekaligus peluang bagi bangsa Indonesia.

           Mengapa bonus demografi menjadi tantangan sekaligus peluang? Karena pada saat bonus demografi itu terjadi, bangsa Indonesia memiliki para pemuda serta usia produktif yang lebih banyak. Peran dari para pemuda tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.

           Dengan melimpahnya jumlah penduduk usia produktif atau usia kerja, tentunya akan menguntungkan negara kita dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi.

           Bonus Demografi di Indonesia sendiri akan berlangsung pada rentang tahun 2012-2030. Indonesia harus memanfaatkan para pemuda sebagai generasi calon pemimpin merupakan satu keharusan. Kesempatan tersebut dilakukan secara simultan oleh seluruh organisasi kepemudaan.

           Pola gerakan bersama yang dapat dilakukan yakni dalam meningkatkan kualitas pemuda melalui peningkatan pendidikan, keterampilan dan kesehatan, serta kemampuan bangsa dalam menyiapkan lapangan pekerjaan bagi para tenaga kerja sesuai dengan kemampuan pendidikan dan ketrampilan yang dimiliki.

           Sehingga mereka mampu memperoleh pendapatan yang dapat menopang kehidupan diri sendiri dan keluarganya, terutama orang yang menjadi tanggung jawab mereka di usia non produktif (Mukri 2018).

           Untuk memanfaatkan bonus demografi maka anak-anak harus dibentuk kualitasnya sejak sekarang. Pada tahun 2025 nanti anak-anak sudah dewasa dan termasuk dalam usia produktif. Untuk itu, mulai saat ini, generasi muda harus mempersiapkan diri agar mampu bersaing meraih kesempatan kerja, dan bersaing dengan negara-negara lain di seluruh dunia.

           Artinya mulai sekarang, anak-anak harus meningkatkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual secara optimal (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2017).

           Peran generasi muda terutama milenial sangat penting menghadapi bonus demografi yang terjadi karena generasi mereka lah yang kelak akan menjadi pemimpin dari bangsa ini. Lalu apakah yang harus dilakukan generasi milenial saat ini guna menghadapi bonus demografi di Indonesia agar terwujudnya Indonesia Emas 2045?

           Pertama, pendidikan merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter setiap individu. Perbedaan antara orang-orang yang menerima pendidikan dengan orang – orang yang tidak pernah mengenal pendidikan sangat terlihat dengan jelas.

           Mengapa berkarakter? Karena karakter menentukan kualitas moral dan arah dari setiap generasi muda dalam mengambil keputusan dan tingkah laku.

           Karena karakter merupakan bagian integral yang harus dibangun, agar generasi muda sebagai harapan bangsa, sebagai penerus bangsa yang akan menentukan masa depan harus memiliki sikap dan pola pikir yang berlandaskan moral yang kokoh dan benar dalam upaya membangun bangsa (Triyono and Dharma 2018).

           Pendidikan tak lepas dari seorang guru. Guru ditantang untuk lebih kreatif, inovatif, dan inspiratif guna mencapai pendidikan yang berkualitas dan guru juga harus merancang kegiatan pembelajaran yang bermutu dalam mencapai Indonesia Emas 2045.

           Guru menjadi kunci utama keberhasilan sumber daya manusia yang tidak hanya produktif tetapi juga unggul dan religious. Sehubungan dengan itu, tidak terlepas dari upaya pemerintah untuk bersinergi mencerdaskan anak bangsa.

           Dari pendidikan yang berkualitas maka akan tercipta pemuda yang berkualitas pula. Oleh karena itu, peran generasi milenial dalam kependidikan sangat penting dan utama karena akan mendukung dan terciptanya karakter yang baik serta generasi yang kreatif dan inovatif dalam menghadapi bonus demografi di Indonesia.

           Sasaran pendidikan merupakan proses untuk memanusiakan manusia. Pada esensi potensial pendidikan, pendidikan merupakan suatu daya yang mampu membuat manusia (generasi emas) berada dalam kepribadiannya sebagai manusia kreatif kepribadian yang kreatif.

           Pada esensi konkret, pendidikan merupakan daya yang mampu membuat setiap generasi emas berkesadaran utuh terhadap hakikat keberadaannya berdasar pada nilai asal usul dan tujuan kehidupannya (Abi 2017).

           Kedua, generasi milenial harus kompetitif. Kompetitif berarti generasi milenial mempunyai kemampuan karakteristik dan kemampuan yang berdaya saing tinggi.

           Dengan kemampuan kompetitif generasi milenial akan mampu mencapai keunggulan, memiliki daya saing yang tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain, dan senantiasa akan menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa Indonesia.

           Ketiga, generasi milenial harus memiliki jati diri dan prinsip. Hal ini dapat membuat kepercayaan diri para generasi milenial yang memiliki jati diri terutama dalam berbangsa yang bersifat pancasilais.

           Mengapa harus memiliki jati diri? Karena agar para generasi milenial tidak menghilangkan kecintaannya terhadap bangsa dan negara serta budaya yang ada di Indonesia. Pemuda Indonesia merupakan generasi penerus bangsa Indonesia.

           Pemuda merupakan aset masa depan Indonesia. Sudah sepatutnya sebagai pemuda memberikan inovasi dan kontribusi untuk memajukan bangsa. Oleh karena itu diperlukan suatu strategi agar terwujudnya Generasi Emas pada tahun 2045.

           Hal-hal yang kecil perlu dilakukan pemuda masa kini adalah mengubah kebiasaan-kebiasaan yang banyak mengahabiskan waktu. Pemuda adalah aset bangsa yang sepantas kita pupuk dengan knowledge, attitude dan skill yang mumpuni dan mengembangkan kapasitasnya sebagai pemuda dalam menghadapi bonus demografi dan bersaing secara global agar dapat menuai hasil yang masksimal.

           Pemuda juga harus memiliki ekoliterasi. Pemuda yang memiliki ekoliterasi tinggi akan mengasilkan kontribusi yang tinggi di lingkungan juga. Karena di kehidupan sehari-hari mereka telah menerapkan ekoliterasi di segala aspek kehidupan (Nadiroh, Hasanah, and Zulfa 2019).

           Ekoliterasi merupakan suatu pemahaman yang mempelajari interaksi dengan lingkungan. Oleh karena itu, pemuda milenial harus menerapkan ekoliterasi mereka dalam kehidupan sehari-hari agar dapat berkontribusi terutama dalam kepercayaan diri dalam mengenal lingkungan terutama menghadapi bonus demografi yang ada di Indonesia.

           Selain itu generasi milenial juga harus dapat melakukan 4C yaitu, Communication, Collaborative, Creative dan Critical Thinking. Dalam berpikir kritis pemuda diharapkan mampu memanfaatkan keterampilannya dalam membuat penilaian dan perspektif yang kompleks (Nadiroh, Hasanah, and Zulfa 2019).

           Dengan peran generasi muda yang maksimal bukan tidak mungkin Indonesia Emas Tahun 2045 akan menjadi suatu hal yang pasti karena Indonesia pada tahun tersebut memiliki para pemimpin dari pemuda-pemudi yang mengahadapi persaingan bonus demografi sehingga mempunyai daya saing dan keunggulan tersendiri.

Editor : Nunung Asmawati

Website : Doan Carlos Embara

Penulis : Caroline Anggi Sophia (Mahasiswi Universitas Andalas, peserta LEADS Article Competition)

Referensi :

Azhari, A. 2019. Peran Generasi Milenial Dalam Menghadapi Bonus Demografi di Indonesia Untuk Menuju Indonesia Emas 2045. Fakultas Ilmu Sosial: Universitas Negeri Jakarta.                                          

Fully Funded